Nah, ini cerpen pertama yang aku post. Yang ini dulu aku bikin buat mading yang mau dilombain pas lustrum-an sekolah kemaren. Meskipun nggak juara, tapi lumayan mading kami masuk 10 besar, hehe. Yah, walaupun masih ada 9 'better nomination', tapi moga-moga cerpen yang tema dan judulnya agak 'abstrak' ini masih bisa memuaskan kalian para pembaca. Enjoy your reading ^^
-------------------------------------------------
Dahlia adalah seorang gadis berumur 9 tahun. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah mungil di tepi pantai. Ayah Dahlia sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Dahlia sangat menyayangi ayahnya, yang selalu bisa mengerti perasaan dan keinginannya. Tak heran, beberapa hari setelah kepergian ayahnya, Dahlia menderita demam tinggi akibat depresi akan kehilangan sosok seorang ayah. Walau tak berlangsung lama, setelah sembuh dari penyakitnya sikap Dahlia berubah cukup drastis. Ia menjadi lebih nakal dan manja, mudah emosi dan sering membantah perkataan ibunya. Tak jarang juga tangisannya terdengar di tengah malam, ketika ia berbaring di kamarnya yang gelap seraya memandangi foto almarhum ayahnya. Luka di hatinya belum juga terobati hingga saat ini, dan entah sampai kapan.
Suatu hari, ketika ibunya sedang belanja ke pasar, Dahlia bermain-main sendiri dengan bolanya di rumah. Bola memantul kesana-kemari dari ruang ke ruang. Sampai akhirnya... PYAAARR! Menabrak sebuah vas besar di ruang tamu yang jatuh berguling sampai pecah berkeping-keping. Ya ampun, itu kan vas kesayangan ibu! kata Dahlia dalam hati, bibirnya bergetar tak dapat berkata-kata. Aduh, bagaimana ini? Bisa mati aku digorok ibu. Baru saja Dahlia hendak menyingkirkan pecahan vas dan menyembunyikannya di bawah meja, pintu depan terbuka dan Ibu melangkah masuk.
“DAHLIA! Apa yang telah kau perbuat?!” Ibu terperanjat melihat kepingan vas berserakan di lantai.
“Itu bu, tadi aku..” Dahlia berusaha menjawab, “Tadi kan aku main bola, terus—“
“Sudah berapa kali ibu bilang padamu, jangan main bola di dalam rumah! Sekarang lihat apa yang kau perbuat, vas ini harganya mahal sekali!”
Dahlia terdiam, sejak tadi kepalanya menunduk, tangannya mengepal. Titik-titik air mata mulai menetes dari pipinya, bibirnya bergetar menahan tangis. Tiba-tiba ia berlari ke dalam kamarnya, menyambar foto ayahnya yang bertengger rapi di meja kecil dekat kasur, lalu melesat ke luar rumah.
Dahlia bingung apa yang seharusnya ia rasakan. Rasa sedih dan marah bercampur aduk di hatinya. Gejolak kekecewaan dan keresahan memacu keras detak jantungnya. Teriakan Dahlia terngiang di lautan luas, meledakan emosi yang tak terkendali. Ia hanya terlalku kecil untuk menahan segala rasa sakitnya.
Entah sudah berapa lama Dahlia berlari di sepanjang pantai, sampai akhirnya sesuatu yang bukan pasir dan ombak, terhampar di hadapannya. Ha, bagaimana mungkin ada hutan disini? Hutan hujan tropis yang tak terlihat ujungnya. Penasaran, Dahlia memberanikan diri untuk melangkah masuk.
Hutan itu lebat, namun begitu sepi. Tak ada tanda-tanda hewan dan serangga, hanya pohon dan pohon yang terlihat. Setelah berjalan beberapa langkah, Dahlia mendapati sebuah pohon raksasa menjulang di depannya. Tiba-tiba kelelahan akibat berlari dan menangis mulai membanjiri tubuhnya. Ia duduk bersender pada pohon itu dan segera terlelap dalam sekejap.
Hari sudah gelap saat Dahlia membuka matanya. Ia baru saja memimpikan ayahnya, segala kenangan manis bersamanya dan pahit kehilangan saat kepergiannya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor kucing putih yang seketika melompat ke pangkuannya. Kucing itu mendengkur manja sambil mengelus-elus lengan Dahlia.
“Kau pasti, juga terbuang, ya?” ucap Dahlia seraya menggaruk leher si kucing. “Apa kamu juga ditinggalkan oleh orangtuamu? Kalau begitu kita sama. Ayahku pergi meninggalkanku, dan ibuku sudah tak peduli lagi padaku. Kenapa.. kenapa hidup ini sungguh tidak adil? Kenapa orang-orang yang paling kusayangi justru pergi meninggalkanku? Kenapa rasa sakit terparah justru datang dari orang-orang yang paling kusayangi?” ia berkata, lebih kepada diri sendiri “Kamu juga begitu kan, kucing? Kalau tidak, kamu tank mungkin terdampar di hutan ini sendirian. Kita punya nasib yang sama... Lega rasanya bisa berbagi perasaan ini, meski aku pun belum mengertinya.”
Dahlia, memang kita sama. Terdengar suara si kucing di benak Dahlia. Kita sama-sama liar, melayang penuh kebebasan di langit tanpa batas ini yang kita sebut ‘hati’. Namun, semakin tinggi kau terbang, semakin sakit rasanya jika terjatuh, itulah mengapa orang yang paling kita cintai merupakan orang yang paling sering menyakiti kita juga. Tapi kau harus ingat, rasa sakit itu tak selalu buruk, rasa sakit merupakan pengorbanan penuh dan simbol perjuangan terbesar kita demi melindungi cintamu. Luka-luka itu yang tergores di hatimu, yang akan bersatu mengukir jalan menuju kebahagiaan sejati.
Kamu juga salah presepsi, Dahlia. Kita tidak terbuang seperti apa yang kau kira, kau masih bisa menyayangi orangtuamu sepenuh hati, dan menjaga cintamu tetap abadi. Sehingga mereka akan selalu ada di hatimu, dan karena itulah kau tak akan pernah terbuang, kau akan selalu ada bersama segenap cinta yang kau ukir, karena sesungguhnya kehidupan adalah mencintai. Kau ada karena cintamu ada, kau ada karena mereka ada.
Dahlia tersentak berdiri, berbalik dan berlari kembali secepat sebelumnya... namun kali ini, dengan senyuman. Sesampainya di rumah, ia dapati ibunya sedang menangis, pecahan vas kesayangannya sama sekali tak tersentuh. Dahlia mendekati ibunya dan memeluknya erat-erat.
Dan kenapa Dahlia tidak terkejut saat mendengar suara si kucing di benaknya? Karena sebenarnya tak pernah ada kucing, karena sesungguhnya obat bagi luka hati kita ada pada cinta itu sendiri.

0 comments:
Post a Comment