Jika ditanya tentang sebuah kenangan, aku enggan bisa memilah salah satu dari ribuan, apa lagi mejelaskannya secara spesifik tanpa menyangkut serpihan kenangan lain. Karena bagiku, sebuah kenangan tak hanya berupa potongan ingatan akan even-even tertentu. Kenangan adalah segenap gelombang perasaan yang mengalir di setiap detik ku bersama mereka yang kucintai. Dengan setiap pasang surutnya, seberapapun sakit dan senangnya, kenanganku akan mereka tak kan pernah tergantikan.
SMP 8 adalah landasan bagi sayap-sayapku, angkasa tempatku melayang, terbangkanku tinggi tuk raih mimpi. Di sini kubertemu teman-teman yang senantiasa mewarnai hari ku, mereka yang melukiskan keceriaan dan canda tawa dalam hidup ku. Tanpa mereka, aku bukan siapa-siapa. Bersama mereka, setiap hari bersekolah tak terasa seperti suramnya jam-jam menuntut ilmu. Mulai dari pagi ku menginjakan kaki di ambang pintu kelas, pelajaran jam pertama yang selalu terasa dingin dalam naungan embun fajar bercampur hembusan udara AC, jam istirahat pertama yang berarti waktu sarapan, jam istirahat kedua yang dihiasi serunya duel dan sepakbola, sampai saat pulang sekolah yang sangat melegakan. Sore hari pun tak pernah semu dalam hidupku. Pulang sekolah baru awal petualangan. Sepakbola sudah jadi rutinitas tersendiri bagi kelasku, terkadang bahkan jadi ajang uji kemampuan buat tim 9-9. Duel juga, Kazuki Takahashi benar-benar telah menurunkan mentari bagiku dan teman-teman. Beserta segala kesenangan lain sepulang sekolah. Sayang semua itu terpaksa berakhir pukul 3 sore, terhempas pergi oleh Pak Toni dan suara 'Hexos'-nya. Tapi meninggalkan gerbang sekolah bukan berarti melangkah pulang menuju rumah. BK time sama Kiki Senja selalu jadi penutup yang asyik dan mengenyangkan. Bagi keseharian yang telah terukir sebagai pelangi di hatiku.
SMP 8 bagaikan tempat reinkarnasiku. Aku serasa terlahir untuk kedua kalinya. Seorang bocah yang awalnya tak lebih dari seonggok rapuh kehidupan, yang telah menjalani 12 tahun hidupnya dengan landasan retak dan sayap yang terkoyak. Setiap hariku saat itu hanya dapat tertawa akan khayalan dan omong kosong, segala potongan imajinasi yang otak ku produksi, tanpa mengenal mimpi dan tak lebih dari ilusi. Aku tak pernah punya impian. Ya, 12 tahun pertama ku memang lebih ramai dihiasi prestasi ketimbang 3 tahun belakangan ini. Tapi apalah arti sebuah pencapaian, tanpa mimpi yang menghiasi tiap tetesan peluh ku berjuang deminya.
Dan SMP 8 lah tempat impianku tumbuh. Satu semester pertama mungkin masih berupa orientasi dan penyesuaian diri. Karena semua bermula pada hari ibu pertamaku di sekolah ini, saat field trip pertama kelas SBI ke Pantai Baron dan Kukub. Mungkin jok belakang bus yang panas dan kotor bukanlah suasana yang indah untuk memulai sebuah cerita. Tapi surga tetaplah surga, dan malaikat manis dihadapan ku telah membawaku terbang ke sana. Paling tidak itulah yang kurasakan, mungkin dengan sedikit taburan metafora. Sheldy dan Alfian (pas itu aku manggilnya masih pakai nama asli, belom Atis) masil terlihat jengkel karena harus pindah ke belakang bus yang sangat tidak nyaman. Rasanya seperti kutukan, padahal kita bertiga udah dapet tempat enak di bagian tengah. Tapi Pak Gik, Si Guru Geo, 'mempersilahkan' kami untuk pindah ke belakang, soalnya mau di pakai yang cewek-cewek, nanti muntah katanya kalau di belakang. Ya, dengan enggan kami pindah dan berusaha menempatkan diri senyaman mungkin di lingkup yang sesak itu (kasian Alfian dapet 'kursi panas' tempat duduk tanpa jok di atas mesin, memang dia sampai sekarang jatahnya di sia-sia, haha). Untuk menghilangkan rasa kesal, kami mulai membuat lelucon tentang tulisan-tulisan geje di tembok belakang bus. Yang aku ingat, di situ ada tulisan 'Indra Boyo', 'Dodi Jemblung', 'Wempi Kancil', sama 'Badak'. Nah, ceritanya 'Badak' itu jadi bosnya, terus Alfian jadi pawangnya Wempi Kancil yang di gambarkan sebagai hantu tak terlihat yang selama ini selalu ngikutin Alfian. Hahaha, akhirnya malah pada ketawa ngejekin dia di belakang bus. Sampai saat pada bagi-bagi makanan, setelah setengah perjalanan lamanya, akhirnya aku berpaling kedepan. Saat kulihat dirinya... Pikiran dan perasaan mulai berbaris tak teratur dalam diriku. Kalimat pertama yang dapat kupikirkan hanyalah, "Wah, cantiknya!". Lalu kesadaranku mulai kembali, "Ya ampun, bodohnya! Masa' nggak pernah nyadar ada cewek seindah ini, padahal cuma di kelas sebelah". Saat itu aku belum begitu mengerti, sebenarnya apa yang terjadi? Aku bahkan belum pernah mengenalnya, tahu namanya saja belum. Aku hanya senang memandanginya, dan kalau sampai lepas dari pandangan rasanya gatal pengen lihat lagi. Wajahnya tak seperti model-model yang sering kulihat di TV dan majalah, bukan juga seperti wanita secantik apapun yang dapat kukorek dalam memori. Tapi entah kenapa setiap inci dari tubuhnya dapat memancarkan keindahan yang belum pernah kurasakan, senyumnya bagai mentari yang merangsang denyut nadi dan detak jantungku. Begitu terus, sampai bus kembali ke sekolah dan kami semua turun, mataku masih belum bisa teralih darinya. Dan ketika akhirnya sosoknya harus pergi menjauh dan semakin jauh, ketika hatiku mulai sepi akan kehadirannya dan sekejap merindukan senyum yang merekah di wajahnya, barulah aku sadar... That I had fallen in love with an angel.
At last, I had discovered myself as a person, my mean to have ever born in this world. And since then, i began to follow the path of love, the way to feel and understand other's feeling. I'll love, I wish to be loved, and so, I have to be loveable. I always wanted to be the one who make her smile, and laughing along with her sweet voice. I wanna be the one who hold her hands when she need warmth. I wanna be the one who sweep her tears and give her the shoulder to lie on. Wanna spend my lifetime with her, just wanna be the best for her. And I wish, I could share the whole world with her, just a pair of happiness, together and forever...
SMP 8 adalah akar dari mimpiku, setiap benih harapanku. Dan akan selalu menjadi bagian dari diriku.
SMP 8 adalah landasan bagi sayap-sayapku, angkasa tempatku melayang, terbangkanku tinggi tuk raih mimpi. Di sini kubertemu teman-teman yang senantiasa mewarnai hari ku, mereka yang melukiskan keceriaan dan canda tawa dalam hidup ku. Tanpa mereka, aku bukan siapa-siapa. Bersama mereka, setiap hari bersekolah tak terasa seperti suramnya jam-jam menuntut ilmu. Mulai dari pagi ku menginjakan kaki di ambang pintu kelas, pelajaran jam pertama yang selalu terasa dingin dalam naungan embun fajar bercampur hembusan udara AC, jam istirahat pertama yang berarti waktu sarapan, jam istirahat kedua yang dihiasi serunya duel dan sepakbola, sampai saat pulang sekolah yang sangat melegakan. Sore hari pun tak pernah semu dalam hidupku. Pulang sekolah baru awal petualangan. Sepakbola sudah jadi rutinitas tersendiri bagi kelasku, terkadang bahkan jadi ajang uji kemampuan buat tim 9-9. Duel juga, Kazuki Takahashi benar-benar telah menurunkan mentari bagiku dan teman-teman. Beserta segala kesenangan lain sepulang sekolah. Sayang semua itu terpaksa berakhir pukul 3 sore, terhempas pergi oleh Pak Toni dan suara 'Hexos'-nya. Tapi meninggalkan gerbang sekolah bukan berarti melangkah pulang menuju rumah. BK time sama Kiki Senja selalu jadi penutup yang asyik dan mengenyangkan. Bagi keseharian yang telah terukir sebagai pelangi di hatiku.
SMP 8 bagaikan tempat reinkarnasiku. Aku serasa terlahir untuk kedua kalinya. Seorang bocah yang awalnya tak lebih dari seonggok rapuh kehidupan, yang telah menjalani 12 tahun hidupnya dengan landasan retak dan sayap yang terkoyak. Setiap hariku saat itu hanya dapat tertawa akan khayalan dan omong kosong, segala potongan imajinasi yang otak ku produksi, tanpa mengenal mimpi dan tak lebih dari ilusi. Aku tak pernah punya impian. Ya, 12 tahun pertama ku memang lebih ramai dihiasi prestasi ketimbang 3 tahun belakangan ini. Tapi apalah arti sebuah pencapaian, tanpa mimpi yang menghiasi tiap tetesan peluh ku berjuang deminya.
Dan SMP 8 lah tempat impianku tumbuh. Satu semester pertama mungkin masih berupa orientasi dan penyesuaian diri. Karena semua bermula pada hari ibu pertamaku di sekolah ini, saat field trip pertama kelas SBI ke Pantai Baron dan Kukub. Mungkin jok belakang bus yang panas dan kotor bukanlah suasana yang indah untuk memulai sebuah cerita. Tapi surga tetaplah surga, dan malaikat manis dihadapan ku telah membawaku terbang ke sana. Paling tidak itulah yang kurasakan, mungkin dengan sedikit taburan metafora. Sheldy dan Alfian (pas itu aku manggilnya masih pakai nama asli, belom Atis) masil terlihat jengkel karena harus pindah ke belakang bus yang sangat tidak nyaman. Rasanya seperti kutukan, padahal kita bertiga udah dapet tempat enak di bagian tengah. Tapi Pak Gik, Si Guru Geo, 'mempersilahkan' kami untuk pindah ke belakang, soalnya mau di pakai yang cewek-cewek, nanti muntah katanya kalau di belakang. Ya, dengan enggan kami pindah dan berusaha menempatkan diri senyaman mungkin di lingkup yang sesak itu (kasian Alfian dapet 'kursi panas' tempat duduk tanpa jok di atas mesin, memang dia sampai sekarang jatahnya di sia-sia, haha). Untuk menghilangkan rasa kesal, kami mulai membuat lelucon tentang tulisan-tulisan geje di tembok belakang bus. Yang aku ingat, di situ ada tulisan 'Indra Boyo', 'Dodi Jemblung', 'Wempi Kancil', sama 'Badak'. Nah, ceritanya 'Badak' itu jadi bosnya, terus Alfian jadi pawangnya Wempi Kancil yang di gambarkan sebagai hantu tak terlihat yang selama ini selalu ngikutin Alfian. Hahaha, akhirnya malah pada ketawa ngejekin dia di belakang bus. Sampai saat pada bagi-bagi makanan, setelah setengah perjalanan lamanya, akhirnya aku berpaling kedepan. Saat kulihat dirinya... Pikiran dan perasaan mulai berbaris tak teratur dalam diriku. Kalimat pertama yang dapat kupikirkan hanyalah, "Wah, cantiknya!". Lalu kesadaranku mulai kembali, "Ya ampun, bodohnya! Masa' nggak pernah nyadar ada cewek seindah ini, padahal cuma di kelas sebelah". Saat itu aku belum begitu mengerti, sebenarnya apa yang terjadi? Aku bahkan belum pernah mengenalnya, tahu namanya saja belum. Aku hanya senang memandanginya, dan kalau sampai lepas dari pandangan rasanya gatal pengen lihat lagi. Wajahnya tak seperti model-model yang sering kulihat di TV dan majalah, bukan juga seperti wanita secantik apapun yang dapat kukorek dalam memori. Tapi entah kenapa setiap inci dari tubuhnya dapat memancarkan keindahan yang belum pernah kurasakan, senyumnya bagai mentari yang merangsang denyut nadi dan detak jantungku. Begitu terus, sampai bus kembali ke sekolah dan kami semua turun, mataku masih belum bisa teralih darinya. Dan ketika akhirnya sosoknya harus pergi menjauh dan semakin jauh, ketika hatiku mulai sepi akan kehadirannya dan sekejap merindukan senyum yang merekah di wajahnya, barulah aku sadar... That I had fallen in love with an angel.
At last, I had discovered myself as a person, my mean to have ever born in this world. And since then, i began to follow the path of love, the way to feel and understand other's feeling. I'll love, I wish to be loved, and so, I have to be loveable. I always wanted to be the one who make her smile, and laughing along with her sweet voice. I wanna be the one who hold her hands when she need warmth. I wanna be the one who sweep her tears and give her the shoulder to lie on. Wanna spend my lifetime with her, just wanna be the best for her. And I wish, I could share the whole world with her, just a pair of happiness, together and forever...
SMP 8 adalah akar dari mimpiku, setiap benih harapanku. Dan akan selalu menjadi bagian dari diriku.
