Demi batu nisan, berselimut gemerlap langit malam
Demi tiap nafas yang sempat berhembus
Demi seuntai rambut dalam belaian jemari lembut
Demi sebuah kehilangan, demi tetes-tetes air mata
Andai bukan nama itu yang tertoreh di wajahnya
Andai harum melati tak hanyut bersama ribuan tetes air mata
Andai saja, takdir tak harus saksikan tangisnya
Demi batu nisan, berselimut gemerlap langit malam
Dan hidup yang tak pernah lebih dari sekedar bayangan
Berhembus kencang seakan beradu dengan impian
Lalu sekejap sirna bagai ditelan kehampaan
Cita-cita dan harapan hanyalah seonggok kerikil dibanding kehidupan
Kalau saja hari demi hari tak berjalan secepat bumi berotasi
Maka masa depan dan sekarang adalah hilang
Dan masa lalu tak lebih dari omong kosong yang terlupakan
Akulah kehidupan
Sebuah mimpi dan khayalan yang tak sepenuhnya menjadi nyata
Akulah takdir
Dengan segala metafora dan ironi yang tak pernah menyinggung fakta dan logika
Akulah bayangan
Cerminan dari sebuah kehidupan
Tak pernah lepas dari tempatnya, tak pernah tentang arah langkahnya
Aku ada bersama dunia
Akulah hidupku
Akulah yang kau lihat dalam kehidupan
Dentuman dan goresan
Dadaku berderu
Tekanan, bobot tak tertahankan
Lenganku terkulai lesu
Memar dan bekas luka
Sembuh, terhapuskan air mata
Mata yang berkaca-kaca
Bibir yang bergetar tanpa kata
Peluhku menetes, garam bercampur geram
Sunyi buatku geli, lunturkan rasa percaya diri
Angkat kepala tegakkan bahu
Kepada angkasa kuberseru
Apa arti hidup ini?
Jawaban tak pernah menanti, jawaban harus dicari
Mulai melangkah, dalam tiap pijakan dan hentakan
Rumput pekarangan ini, tak pernah lebih lembut lagi
Dan sampai di bawah rindang pohon jati, jawaban tak pernah enggan bersembunyi
Hidup itu takdir
Dengan tiap goresan yang menyusun arah lajunya
Hidup itu teka-teki
Akar dari ribuan tanda tanya dan penasaran tak berhingga
Hidup itu harapan
Mimpi tentang keindahan setelah dia pergi
Hidup itu luka
Tak pernah sepi dari sayatan perih air mata
Tapi yang pasti, hidup itu pilihan
Pilihan akan bagaimanapun cara kita mengertinya
Hidup terus berjalan
Melangkah, senada dengan ayunan jarum jam
Sebuah sirkulasi yang tak kenal henti
Berputar bagai sekelebat harapan yang tak terpenuhi
‘Sekarang’ tak pernah berarti saat ini
Tiap detik yang kau amati hanya akan berlalu semu
Rantai universal kehidupan adalah satu hal yang abadi
Namun hidup itu sendiri tak pernah berdiri selamanya
Dan ketika burung bangkai berdatangan dan mulai haus akan santapan
Seakan bisikan mereka mengumandangkan datangnya penderitaan
Dan hanya takdirlah yang dapat menerka masa depan
Akankah Sang Kematian memuaskan nafsu haus darah budak-budaknya…
Demi batu nisan, berselimut gemerlap langit malam
Kau telah melewatinya, kau sudah menemuinya
Insan abadi yang tak pernah terlahir
Dialah penghuni kegelapan tanpa batas
Tenang, cahaya masih mencintaimu
Materi fosfor masih terus bersinar redup bersama tubuhmu
Mentari dan rembulan selalu pancarkan senyumnya bagi nisanmu
Dan cahaya jiwamu tak pernah mati, kasih sayang mereka khusus untukmu
Dan demi batu nisan, berselimut gemerlap langit malam…
Aku berjanji, pertaruhkan hati ini, tak akan ku ingkari
Dengan semua yang tertinggal dan kau titipkan bersama mimpi
Aku bersumpah, di setiap kata dan puisi, di setiap gelombang pasang emosi
Tak kan tinggalkan dia pergi, serpihan surga yang kau beri
Terimakasih…
Kau wariskan padaku, cinta akan putrimu
--------------------------------------------------
Tapi setiap puisi punya kenangan untukku, baik yang aku buat sendiri ato pun karya orang lain yang pernah aku baca.. Puisi ini juga agak geje sebenernya, sebagian besar isinya ga nyambung sama maksud dibikinnya puisi ini.. Paling cuma 2 bait terakhir yang cocok.. Oh iya, kayaknya ini juga puisi terpanjang yang pernah aku buat :D
Anyway, thanks for reading, hope you like it! ^^

0 comments:
Post a Comment