Cahayanya

Sunday, April 10, 2011

Sebenernya, aku bikin puisi ini juga untuk ngisi mading lustrum kemaren. Tapi akhirnya nggak dipake, soalnya udah ada yang ngisi. Tapi gapapa deh, nggak ada ruginya kok nulis puisi, jadinya sekarang malah bisa di posting di blog kan, haha. Enjoy your reading ^^


----------------------------------------------------------



Ketika Mata ini tak rasakan dunia lagi
Mungkinkah kelopaknya enggan tuk hapus kehampaan ?
Ketika kegelapan tak lagi sesuatu yang hilang
Apakah arti kehidupan adalah hitam ?

Namun jikalau hanya kekosongan yang tersisa
Bukankah keberadaan pun pantas tuk diragukan ?

Kutulis semua ini dalam gelap
Tapi apalah artinya jika hati terus bersinar
Maka dapat kupastikan, setiap torehan kata ini adalah...
Cahaya

Aku buta...
Segera setelah kutinggalkan liang rahim dan hidup tuk pertama kalinya
Hitam tak lagi menjadi sebuah warna
Neon di puncak inkubator menyingkap segalanya
Warna diriku, warna hidupku

Entah sampai kapan kuhidup dalam lingkup yang sempit ini
Seiring waktu kusadari, kehidupan oleh aliran listrik ini, hanyalah cahaya semu

Namun akhirnya kupijakkan kaki dan rasakan dunia
Memandang keatas, menatap atmosfer tak terbatas
Dan disana kulihat, cahaya abadi, cahaya dunia
Sang mentari...

Berlari, melompat, menggapai angkasa
Setiap kali kuhempaskan tubuh menuju kebebasan
Teriakanku melesat bersama hembusan angin
Langit, ku kan terbang meraihmu !

Terjatuh...
Roda kehidupan terus berputar, dan tergelicir bukan lagi kebetulan
Tak bisa ditolak, harus kurasakan
Sakit pahit kehidupan

Tak peduli terik matahari bersinar terang
Tak peduli seribu neon dinyalakan
Hatiku tetap kelam

Duabelas tahun berlalu, rasakan perih dan setiap peluh yang terbuang
Sampai akhirnya kutemukan...

Semua yang hilang selama ini
Yang paling terang dan kan terus bersinar

Cahaya hidupku, cahaya diriku
                        Cahaya yang tersirat dalam hatiku

Senyumnya...

0 comments:

Post a Comment